Cerita Maling Muslim, Lulus Dari Pesantren Selama 20 Tahun

Carakus.comCerita Maling Muslim. Pernah jadi maling? Jujur, kalau ane sendiri mah udah pernah jadi “maling”, dari mencuri mangga tetangga yang tertanam baik dari usia dini, hingga sekarang masih berstatus menjadi “maling hati” karena bisa dibilang ane, tidak terlalu baik mencari hati.

Mengenai perjalanan hidup seseorang tidak pernah ada yang mengetahui, kita hanya perlu berusaha untuk menggapai apa yang kita inginkan. Semua itu terjadi terserah takdir, bukan karena qodrat.

Banyak orang yang salah menilai dengan kehidupan ini, dari sikap atau mereka menyikapi masa yang akan datang.

”Hiduplah Seakan-Akan Kamu Akan Mati Besok. Belajarlah Seakan-Akan Kamu Akan Hidup Selamanya”

Ceirta Maling Muslim Lulus Dari Pesantren Selama 20 Tahun

Biasanya seorang maling yang biasa dihajar warga, tidak memiliki prinsip yang baik atau memiliki sebuah faktor-faktor pendorong, seperti:

  • Keputusasaan karena masalah (frustasi).
  • Kesempatan.
  • Kurang peduli sesama manusia.
  • Berfikiran pendek.
  • Tidak memiliki inisiatif.
  • Pengaruh Teman.
  • Perekonomian.

Mari kita simak cerita maling berikut ini:

Cerita Maling Muslim, Lulus Dari Pesantren Selama 20 Tahun

Tapi kalian akan terkejut, bila sebuah peristiwa aneh menimpa kepada kalian yang telah berjuang menjadi pribadi yang baik, sama seperti cerita Si Fathul berikut ini:

Namun cerita ini diambil dari seorang waliyullah, yang juga tidak terkenal pada zaman ini:

Awal Mula

Awal mula cerita ini terjadi di negara Indonesia, provinsi Jawa Timur, terdapat desa kecil yang mempunyai sejumlah warga tak banyak juga sih.

Terjadilah pernikahan antara seorang pria bernama Fathul Bari (27) yang sudah melampaui masa dewasa dengan seorang wanita muda Sri Erwanda (23). Menikahlah keduanya dengan hidup seperti warga lainnya dengan hidup sederhana, juga berstatus “Petani” pada KTP keduanya.

cerita Maling Muslim Lulus Dari Pesantren Selama 20 Tahun

“Biasanya begitu kalau orang di kampung ane, entah dia jadi petani atau tidak statusnya juga petani/wirasuasta

Selang Berapa Bulan…

Hari demi hari berlalu, siang berganti malam, malam berganti siang serta ada pagi, sore, ada malam juga! (Terasa dalam renungan) selama ini dan untuk mencukupi kebutuhan kesehariannya terasa tidak mencukupi. Berbagai tawaran dari teman-temannya untuk bekerja di sekitar kampung, tapi hanya satu yang ada di fikirannya, bekerja ke luar kota (Jakarta).

Tak lama kemudian di pagi hari Fathul Bari pun berpamit kepada sang istri beserta keluarga tercinta untuk berangkat ke kota. Meninggalkan istri yang tengah hamil muda (3 bulan) tentu sangat berat bagi Fathul Bari. Tapi tak apa! Demi keluarga dia melangkahkan kaki meninggalkan keluarga, desa, istri, serta cabang bayi yang belum menjadi anak.

Lahir

cerita Maling Muslim Lulus Dari Pesantren Selama 20 Tahun

Setelah beberapa bulan lahirlah anak yang diharapkan oleh Sri Erwanda, dan diberi nama Fathul Bari sesuai yang dipesankan oleh sang ayah. Namun yang menjadi kendala yaitu sang suami masih tidak ada kabar sejak kepergiannya.

Pertumbuhan

Maling Muslim Lulus Dari Pesantren Selama 20 Tahun
Pertumbuhan

Menghidupi anak semata wayangnya Sri menjadi pembantu rumah tangga, dengan harta warisan 2 ekor kambing yang sudah beranak-pinak. Sengaja kambing itu tak pernah di jual kecuali sudah lebih dari 5 ekor. Hal tersebut demi menanti suaminya yang masih tak kunjung datang, karena hanya kambing itulah warisan dari sang suami.

Tak terasa pertumbuhan Fathul Bari kecil kini semakin besar, sehat, seperti anak sederhana lainnya. Tak hanya itu, didalam pertumbuhan si kecil Sri juga menanamkan ketaqwaan, serta kedisiplinan kepada sang buah hati agar bisa selamat dunia dan akhirat.

Hingga Fathul Bari di cap oleh semua warga, dia adalah anak yang baik.

Mondok di Pesantren

cerita Maling Muslim Lulus Dari Pesantren Selama 20 Tahun

Tidak cukup di cap anak yang baik, ibunya juga mendukung agar anaknya mondok di pesantren. Pesantren itu tak juga terkenal, “hanya pesantren biasa”.

Namun perlu diketahui setiap pesantren itu mempunyai barokah juga mempunyai laknat lho.

Semasa di pondok, Fathul Bari agak berbeda dengan anak yang lain. Dia sulit menangkap pelajaran yang dijelaskan oleh para ustad, juga sangat sulit menghafal pelajaran Shorrof juga Nahwu, oleh karena itu Fathul Bari tidak pernah naik kelas gara-gara pelajaran kitab kuning.

Namun rasa tawadduk kepada sang guru terus dia lakukan.

Kadang sering juga diejek oleh teman sekelasnya, bahkan adik kelas yang baru mendahuluinya juga ikut-ikutan mengejek si Fathul. Meski tidak mengetahui ilmu shorrof, nahwu dan tak untuk membaca kitab kuning (kitab gundul), Fathul Bari tetap gak naik kelas kok. Hehe..

Hal tersebut tidak bisa mengubah sifat yang telah ditanamkan oleh sang ibu tercinta. Yaitu, sikap disiplin juga sikap baik menghormati kepada orang lain.

Kyai Cemas

cerita Maling Muslim Lulus Dari Pesantren Selama 20 Tahun

Berganti tahun, “bertambah bulu disekitar lengan juga bulu di dagu pertanda orang sudah dewasa”, pikir kyai yang telah mendidik Fathul Bari.

Dipanggilah Fathul Bari ke kantor ketua yayasan yang berdekatan dengan rumah kyai.

Kyai : “Fathul Bari kekantor!” (menggunakan mikrofon pondok).

Terdengar suara mikrofon tersebut, bergegas fathul bari menuju ke kantor Ketua yayasan.

Setibanya di kantor.

Fathul : “Assalamu’alaikum” (dengan nada sopan di depan pintu).

Kyai : “Wa’alaikum salam wr wb, masuk nak! Silahkan duduk!”

Fathul : “….?” (berfikir) “Kenapa saya di panggil ke kantor?” Dia bertanya-tanya di dalam gumamnya.

Kyai : “Hul! Apakah kamu pengen menikah?”

Fathul : “Iya kyai”

Kyai : “Kamu di pondok pesanten ini sudah 20 tahun lamanya! Sekarang kamu lulus! Kamu bisa pulang sekarang! Saya merestuimu, nak!”

Fathul : “Tapi setelah saya keluar dari pondok ini, saya harus bekerja apa kyai? Saya tak bisa hanya dengan berdiam diri di rumah saja”

Berfikirlah kyai tersebut, tidak menemukan jawaban! Lalu istikarahlah kyiai tersebut untuk menjawab pertanyaan si murid.

Tak lama kembalilah kyai dari kamarnya.

Kyai : “Nak, kerjakan apa yang dulu dikerjakan bapakmu, dengan syarat tak boleh merugikan orang lain”

Fathul masih tercengang dengan ucapan kyai, tanpa banyak tanya langsung dia berpamitan dengan semua yang ada di pondok. Lalu boyong dari pondok tersebut.

Setibanya di Rumah

Cerita Maling Muslim
Ilustrasi boyong

Setibanya di rumah, betapa bahagianya orang tua si fathul karena anaknya sudah sangat dewasa, tapi dia masih resah dengan pertanyaan serta cerita percakapan kyai yang dibawa dari pondoknya. Yaitu, “mak, apakah pekerjaan almarhum bapak dulu?”.

Karena Si ibu pernah mendapatkan informasi dari teman kampung yang dulu juga bekerja dengan bapak si Fathul, bahwa suaminya meninggal gara-gara di keroyok masa, setelah melakukan aksi pencurian di dalam rumah orang kaya.

Setelah berkali-kali menanyakan hal yang sama kepada sang ibu, akhirnya ibunya menjawab pertanyaan tersebut.

Fathul : “Mak, tolong jawab pertanyaan saya! apa pekerjaan bapak!”

Sri Erwanda : “Bapak kamu maling nak!”

Betapa kaget luar biasa mendengar jawaban sang ibu. Semalaman tak bisa tidur fathul memikirkan hal tersebut. Karena dia tahu kalau menuruti kata kyai (ulama) dia akan selamat, tapi jika sebaliknya terjadi, dia akan merasa sangat durhaka “Masak saya harus menjadi maling? Tapi ini yang disuruh sama kyai!”

Memulai Aksi

Cerita Maling Muslim Lulus Dari Pesantren Selama 20 Tahun

Keesokan Malam harinya terpaksa Fathul Bari berangkat dengan mebawa 1 alat pengungkit (linggis), juga dengan berpakaian sarung dikenakan sebagai penutup wajah “biar kayak maling gitu”.

Melangkahkan kakinya sembari mengucapkan basmalah pada awal langkah kakinya, juga Tidak lupa dengan niat ta’dzim kepada kyai serta pesan terakhir sang kyai.

Rumah Pertama

Cerita Maling Muslim Lulus Dari Pesantren Selama 20 Tahun
Ilustrasi rumah besar

Di tengah jalan dijumpainya rumah besar, dengan pintu terkunci rapat. “Wah dapet gede nih!”

Tapi ada kendala saat ingiin mencongkel pintu rumah tersebut.

Teringat pesan kyai “Kalau saya congkel, terus orangnya terbangun. Wah, tidak boleh nih! Bisa mengganggu orang tidur!” Gumamnya.

Episode Berikutnya.. Cerita Maling Muslim Part 2

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.